Sunday, November 8, 2015

Found Peace In The Mist of Mahawu Mountain


Akhirnya setelah 4 tulisan yang masih di folder Draft, saya memutuskan untuk mem-publish postingan ini. 

Sebelumnya, maafkan kalo ada yang merasa tertipu dengan judul tulisan ini. Bukannya ingin sok-sokan pake bahasa Inggris, tapi karena judulnya akan well-describe in English

7 November 2015
Sabtu pagi yang cerah menyambut saya ketika saya memutuskan untuk beranjak dari kenyamanan tempat tidur yang sangat posesif. Biasanya kalo weekend saya jarang bertemu dengan pagi hari. Saya lebih akrab dengan siang hari. Tapi berhubung ada tumpukan baju kotor yang sudah kasih signal kuat minta dicuci dan janjian (yang hampir batal) di siang hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengakrabkan diri dengan pagi hari.

Berhubung bahasan utama postingan ini adalah tentang janjian (yang hampir batal), jadi saya tidak akan bercerita banyak tentang ritual cuci baju yang sempat diinterupsi mati lampu dan doa ibu tetangga yang meminta hujan. Hahahahaha.

Siang itu saya janjian untuk menikmati keindahan dataran tinggi Tomohon.
Dalam rencana ada 2 tempat yang akan dikunjungi tapi berhubung janjiannya sempat molor 2 jam, karena kami masing-masing punya unfinished business, dengan berat hati kami memutuskan hanya mengunjungi 1 tempat saja. Dan tempat itu adalah Gunung Mahawu.

Jujur saja saya kurang paham tentang sejarah Gunung Mahawu, tapi yang pasti gunung ini adalah salah satu tempat wisata dataran tinggi yang keindahannya tidak bisa dibandingkan dengan tempat wisata yang lain. Berkendaraan di bawah hujan selama lebih dari 1 jam tidak mengurungkan niat kami untuk mengunjungi Gunung Mahawu. Untung saja setelah hujan-hujanan di tengah kemacetan jalan Tinoor, cuaca di Kota Tomohon lumayan bersahabat. Walaupun lumayan berkabut, tapi hujan tidak lagi turun membasahi Kota Bunga itu.

14.51 WITA kami tiba di pos masuk Gunung Mahawu. Setelah mengisi buku tamu dan memberikan partisipasi ke penjaga pos serta memarkir motor di tempat yang disediakan, kami melewati gapura dengan tulisan "Welcome to Mahawu Mountain"

Welcome to Mahawu Mountain

Untuk bisa menikmati pemandangan kawah Gunung Mahawu, kami harus menaiki banyaaaaaak anak tangga yang sangat mampu membuat saya ngos-ngosan dan harus berhenti beberapa kali untuk "menenangkan nafas". Maklum saya tipe orang kantoran yang kerja di belakang meja selama hari kerja dan tidur selama weekend. Hahahaha.

Sampai di atas sangat disayangkan pemandangan kawah Gunung Mahawu tertutup kabut. Dengan berharap kabut akan menghilang atau setidaknya berkurang, kami memutuskan untuk mengitari ring Gunung Mahawu. Setelah berjalan + 15 menit, akhirnya kami sampai di shelter (ato apalah namanya) yang oleh mereka yang paham disebut "mata angin" (kalo gak salah ingat...hehehehe). Kami memutuskan untuk beristirahat di situ dengan harapan kabut bisa sedikit menghilang. Sambil mendengarkan teriakan dan celotehan rombongan yang berjalan berlawanan arah dengan kami yang jaraknya + 15 menit berjalan kaki, saya memutuskan untuk mengabadikan gambar diri bersama pemandangan Kawah Gunung Mahawu (yang masih tertutup kabut T_T).

Found peace in the mist

Kawah Gunung Mahawu as the background
Setelah selesai foto-foto dan ngemil sebentar, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mengitari ring Kawah Gunung Mahawu. Semakin sore kabut semakin tebal jadi saya terpaksa memacu langkah lebih cepat walaupun kaki saya sudah mulai protes karena diajak berjalan jauh tanpa istirahat lagi. Walaupun melelahkan tapi saya merasa sangaaaaat senang dapat menikmati keindahan alam Gunung Mahawu. Kaki boleh lelah berjalan, tapi senyum sumringah tetap terukir. Pemandangan alam ini mampu menghapus kepenatan hari kerja yang menumpuk selama workdays.


Tetap senyum walo kaki udah protes ^_^
Terima kasih buat yang sudah rela nganterin ke sana ke mari, ngejelasin ini itu, sekaligus jadi fotografer saya. Domo arigato gozaimasu \(^_^)/


Let's wandering
SalamWanderer \(^o^)/

No comments:

Post a Comment